Matahari belum begitu tinggi saat daun maple berguguran begitu indah. Warna jingga, kuning dan kemerahan membuat musim gugur terasa makin syahdu. Seorang ayah dan anak lelaki tercinta nya punya cara sendiri menikmati musim gugur. Mereka mengendarai mobil sport dengan kecepatan tinggi. Sayangnya, mobil mereka mengalami kecelakaan. Jiwa sang ayah tak tertolong, meninggalkan seorang pemuda, putra kesayangannya yang terluka parah. Orang orang membawa pemuda ini ke rumah sakit. Kejadian tak terduga terjadi. Di rumah sakit, seorang dokter ahli bedah yang sudah bersiap begitu terkejut saat melihat sang pemuda. Dokter itu berkata lirih, “äku tak sanggup melakukannya karena dia putraku..”
Saya menceritakan kisah di buku Heart and Mind karya Barry Anderson dan Dan Hahn ini kepada teman teman saya. Saat saya bertanya, siapakah dokter yang seharusnya menolong pemuda itu, rata rata mereka berpikir lama. Jawaban jawaban liar bahkan juga saya terima. Bagaimana mungkin pemuda itu adalah putra sang dokter sedangkan ayahnya meninggal saat kecelakaan? Padahal, bukankah pemuda itu juga lahir dari seorang ibu? Ya, inilah kekuatan framing. Seringkali kita terjebak dengan pernyataan yang sebelumnya sehingga tidak mampu berpikir jernih. Ini adalah sebuah ujian kreativitas. Sama halnya seorang sales yang diminta menjual sisir kepada para biksu. Bagaimana caranya sedangkan para biksu bahkan tidak memelihara rambut? Berpikir kreatif. Hanya itu solusinya. Dan benar-lah, jika kita melihat kenyataan hari ini, dunia seolah-olah mengalami turbulensi. Para pelaku bisnis dituntut berpikir kreatif untuk bertahan lalu menerjemahkan dalam inovasi yang mumpuni untuk berperang menghadapi pasar. Apakah cukup sampai disini? Tidak. Bertarung dalam pasar yang menantang memerlukan kemampuan negosiasi yang mumpuni. Bagaimana kita bisa meyakinkan orang untuk memilih produk atau jasa kita, mampu berkolaborasi dengan pihak lain dan bagaimana konsumen merasa memerlukan produk atau jasa kita.
Sell Me This Pen
Saya terkesan dengan Leonardo di Caprio saat memerankan Jordan Bellfort, seorang pebisnis Amerika dalam film The Wolf of Wall Street. Kalimat “Sell me this pen” sesungguhnya adalah bagaimana seseorang mampu bernegosiasi dan menjual produknya. Negosiasi bukan hanya tentang berpikir menang dan kalah tanpa memedulikan orang lain, tetapi bagaimana membuat orang juga merasa menang karena produk kita seolah diciptakan dan bermanfaat untuk mereka. Berapa banyak penjual yang gagal karena selalu berfokus pada fitur atau keunggulan produk sementara mereka tidak memerhatikan manfaat atau benefit yang akan diterima konsumen? Memenangkan hati pelanggan adalah keahlian para negosiator. Bukan hanya menjual, tetapi bagaimana menjadikan konsumen sekaligus brand ambassador yang tanpa sadar mengajak orang lain ikut membeli melalui word of mouth yang mereka lakukan. Apalagi, dunia sekarang ini seolah tidak lagi berbatas teritori.
Negosiasi Di Dunia Yang Datar
Sekarang ini, kita dapat berhubungan dengan orang darimana saja di seluruh dunia dengan sangat mudah. Disinilah diperlukan cara bernegosiasi yang tepat di dunia global yang begitu cepat dan setara seperti yang dinyatakan oleh Thomas L Friedman dalam buku The World is Flat. Pintu dunia yang terbuka memiliki tantangan tersendiri. Setidaknya ada empat hal yang harus diketahui saat kita bernegosiasi dengan orang lain. Yang pertama adalah sikap hormat terhadap orang lain. Hormati perbedaan budaya, perbedaan cara berpikir, dan juga kebiasaan memperlakukan orang lain. Bahasa sederhananya, ikut tanpa harus larut. Misalnya, saat kita sebagai orang muslim berhubungan bisnis dengan orang China, maka pahamilah budaya mereka yang meski ateis tetapi biasanya sangat menghromati tamu. Mereka akan menjamu kita dengan sangat hebat, tetapi kita tidak boleh terlalu larut dan tetap menjaga izzah. Jangan mudah dibeli dan berhutang budi. Sambut penghormatan mereka dengan sewajarnya. Yang kedua adalah bersabar. Beberapa daerah atau negara menganggap negosiasi baru bisa terjadi jika masing masing sudah saling mengenal. Di Jepang, hal yang lazim saat mereka melakukan travelling atau berhubungan intens selama beberapa waktu untuk lebih saling mengenal. Jika tidak sabar, maka sebagian akan menganggap semua hanya membuang buang waktu. Yang ketiga adalah membangun hubungan pribadi. Sama seperti halnya budaya di Jepang, banyak budaya di negara lain yang perlu mengenal secera pribadi saat bernegosiasi. Dan sebetulnya ini terjadi di berbagai kesempatan. Saat kita punya waktu satu jam untuk menjual sesuatu, maka 50 menit pertama digunakan untuk membangun bonding dan saling mengenal. Yang keempat adalah bernegosiasi secara informal. Negosiasi bukan hanya terjadi di ruang ruang rapat yang dingin. Negosisasi memungkinkan terjadi sambil meminum secangkir teh hangat di pinggiran hutan yang asri diiringi canda tawa anak anak kedua belah pihak yang hadir menyertai. Kuncinya adalah ketika sudah ada rasa saling percaya. Rasanya tidak berlebihan jika saya selalu berfikir, there is nothing more than trust. Segalanya berawal dari sebuah kepercayaan.
Negosiasi Dari Pemuda Yang Terpercaya
Jika seorang negosiator memiliki mahkota, maka pastilah mahkota itu akan disematkan kepada seorang manusia sempurna yang mendapat gelar Al-Amin jauh sebelum ditetapkan sebagai Nabi dan Rasul. Dialah Muhammad shalallahuálaihi wa sallam. Masyarakat Makkah memanggilnya al amin atau ash shaddiq al amin yang artinya orang yang dapat dipercaya sehingga penduduk Quraisy sangat menghormati beliau. Semua orang nyaman berhubungan dengan beliau karena beliau terkenal bukan hanya kebaikannya, tetapi juga kebiasaannya untuk selalu memudahkan urusan orang lain. Ada kisah menarik saat Kabah di renovasi. Para pemimpin kabilah di Quraisy bertengkar memperebutkan siapa diantara mereka yang paling berhak untuk meletakkan hajar aswad di posisi semula. Hampir saja keributan terjadi hingga salah seorang diantara mereka mengatakan bahwa hajar aswad akan diletakkan oleh orang yang pertama kali memasuki Ka’bah. Senyum para pemimpin kabilah mengembang saat mereka melihat pemuda idaman mereka, Muhammad shalallahuálaihi wa sallam yang saat itu belum menjadi Nabi dan Rasul, memasuki Ka’bah. “Inilah Muhammad al amin. Sungguh kami Ridha kepadanya.” Mari kita belajar dari manusia hebat ini. Ia tidak mengambil hajar aswad seperti yang diinginkan para pemimpin kabilah. Yang dilakukan adalah menghamparkan sehelai kain dan meletakkan hajar aswad diatasnya. Masing masing pemimpin kabilah diminta memegang ujung kain, berjalan hati hati membawa hajar aswad diatasnya. Saat sampai, Muhammad shalallhuálaihi wa sallam meletakkan di tempat yang seharusnya. Case closed. Semua bahagia dan bangga bisa meletakkan hajar aswad. Sebuah keputusan yang sangat bijak dan cerdas bukan? Darimana kecerdasan ini didapatkan? Tentu dari hati yang bersih dan keimanan yang sempurna. Kesimpulannya, negosiasi bukan sekedar kecerdasan dan keterampilan yang kita miliki, tetapi juga karena keimanan yang tergambarkan dalam sikap serta budi pekerti. Belajar bernegosiasi bukan hanya dari teori barat, tetapi dari manusia sempurna yang menjadikan kita sebagai ummat yang paling beliau cintai, Rasulullah Muhammad shalallahuálaihi wa sallam. Allahumma shalli álaa sayyidina Muhammad.
Author: Ari Indriyani, Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah IAI SEBI
Leave a comment