Ary Indriyani – Direktur Sales dan Marketing PT Cordoba Internasional Indonesia
“Awas nanti pulangnya jangan lupa wadah makan sama botol minumnya..”begitu kira kira pesan para emak sebelum anaknya berangkat sekolah atau suami berangkat kerja. Dan apa yang terjadi saat wadah makan atau botol minumnya hilang? Bersiaplah untuk menerima ‘nasihat’ panjang lebar. Ya, era Tupperware itu ternyata sudah berlalu. Brand yang dulu begitu dibanggakan kaum emak emak harus pamit mundur. Belum lama, brand Bata yang begitu legendarispun izin pamit dari Indonesia. Dunia berubah, perilaku masyarakat pun berubah, termasuk perilaku dalam berbelanj, setelah pandemi Covid-19. Dulu orang belanja di mall saja, atau saat marketplace mulai masuk Indonesia, di online saja. Sekarang tidak lagi seperti itu. Ada istilah showrooming dan webrooming, ada multichannel, dan yang terbaru ada omnichannel.
Perkembangan dunia digital memaksa para pebisnis berpikir lebih kreatif dan inovatif. Produk yang berkualitas tidak lagi menjadi jaminan akan terserap dengan baik di pasar jika hanya mengandalkan satu channel penjualan. Saat ini, konsumen dimanjakan dengan berbagai fasilitas untuk mendapatkan produk, baik barang atau jasa. Jika produk tidak mudah ditemukan, konsumen akan beralih ke produk kompetitor dengan mudah. Disinilah strategi omnichannel diperlukan. Dunia pemasaran yang challenging memaksa para pengusaha dengan dua pilihan,berubah atau mati secara perlahan.
Apa itu Omnichannel
Secara umum, omnichannel adalah strategi bisnis yang menggabungkan berbagai saluran pemasaran atau distribusi untuk memberikan kepuasan maksimal pada konsumen. Pelanggan atau konsumen akan mendapatkan pengalaman belanja yang mulus dan bebas hambatan. Istilah kerennya, a seamless shopping experience.
Omnichannel menggabungkan kanal online dan offline baik website, marketplace, sosial media, dan toko fisik. Semuanya teritegrasi dengan baik dan konsumen bebas memilih kemana dia akan membeli. Konsumen bisa membeli melalui web dan mengambil produknya di toko fisik dengan pembayaran yang juga sangat mudah. Intinya, omnichannel bertujuan agar konsumen tidak ‘frustasi’ atau kesulitan mendapatkan produk yang diinginkan.
Showrooming vs Webrooming dalam Omnichannel
Sudah terjadi di banyak tempat, calon konsumen datang ke outlet di sebuah mall untuk membeli sepatu. Dia memilih model dan ukurannya, dan kemudian melakukan browser hingga memutuskan membeli secara online dengsn harga lebih murah. Perilaku ini dinamakan showrooming. Dan sebaliknya, ada calon konsumen yang berselancar di online hingga mendapatkan barang yang diinginkan, tetapi keputusan pembeliannya dilakukan di outlet setelah dia melihat, mencoba dan yakin dengan pilihannya. Perilaku ini dinamakan webrooming. Omnichannel berperan untuk menjembatani dua perilaku tersebut tanpa hambatan.

Di atas adalah hasil survey MarkPlus, Inc. tahun 2024. Terlihat, konsumen yang melakukan showrooming sebesar 27,24% dan webrooming sebesar 31,50% . Artinya, jumlah konsumen yang cenderung menggunakan omnichannel sebesar 58.74% . Dengan perkembangan digital, sangat mungkin angka ini akan terus meningkat dan bukankah artinya para pebisnis harus lebih serius mengelola omnichannel penjualannya?
Keuntungan Berbisnis Dengan Omnichannel
Omnichannel bukan hanya persoalan memuaskan keinginan pelanggan dengan memadukan showrooming dan webrooming, tetapi juga memikirkan keberlangsungan bisnis. Saat ini banyak produsen yang diam diam atau terang terangan menjual produknya langsung kepada konsumen dan sebaliknya, banyak distributor yang membuat private label mereka sendiri agar tidak tergantung pada produsen. Jika tidak melakukan omnichannel, satu dan yang lain akan berkompetisi secara tidak sehat. Yang agile atau mampu menyesuaikan diri akan mampu bertahan.
Setidaknya, ada 4 pilar untuk kesuksesan omnichannel, yaitu memanfaatkan atau mengoptimalkan pengetahuan konsumen, memanfaatkan tekhnologi, mengelola dengan baik hubungan antar channel dan meng evaluasi performance masing masing channel. Jika ini dilakukan dengan baik, maka omnichannel membawa keuntungan yang lebih besar dalam bisnis, karena :
- Meningkatkan kepuasan pelanggan karena bisa berbelanja dimana saja dan kapan saja. Pelanggan yang puas akan menjadi pelanggan yang loyal. Dia akan membeli kembali dan bahkan merekomendasikan produk ke pelanggan lain
- Data lebih terintegrasi dengan memanfaatkan teknologi. Data adalah alat paling penting dalam membuat Keputusan dan rencana pemasaran.
- Efisiensi biaya karena banyak operasional yang bisa dipangkas dengan kerja yang terintegrasi. Artinya, keuntungan perusahaan bertambah
- Keberlangsungan bisnis lebih terukur karena selalu mengikuti perkembangan pasar.
Tantangan Omnichannel Para Marketleader
Dulu kita mengenal brand-brand besar sebagai marketleader di bidangnya, dan kini bertebaran brand baru yang seolah datang tiba tiba tetapi langsung merebut banyak hati pelanggan. Di dunia kosmetik ada Wardah yang berkompetisi dengan MS Glow, Somethinc, dan sejenisnya. Di fashion, Uniqlo berkompetisi dengan Erigo, bahkan bisnis food and beverages pun terkena dampaknya. Jika dulu anak anak hanya mengenal es krim Campina, sekarang Mixue ada dimana mana.
Pun demikian dengan bisnis penerbitan, khususnya Al Qurán. Jika di awal tahun 2000-an ada Syaamil Quran untuk penerbit Al-Qurán modern, kemudian disusul Quran Cordoba di tahun 2012 yang menjadi market leader, kini bermunculan brand baru yang masuk di pasar. Ada Al Qasbah, Al Fatih, Maghfirah, Cahaya Qurán, Al Hilal, dan berbagai brand Qurán lainnya. Lalu, bagaimana mereka berkompetisi?
Qurán Cordoba yang berdiri sejak tahun 2012 dengan sebagian sahamnya dimiliki oleh Karangkraf Malaysia, mampu bertahan dan terus berkembang di pasar karena strategi omnichannel yang dijalani. Memasarkan produknya melalui online dan offline, Cordoba diuntungkan karena berpartner dengan banyak perusahaan besar. Karangkraf adalah perusahaan media terbesar di Malaysia yang memasarkan produk Quran Cordoba dengan brand Karya Bestari dan menjadi marketleader di Malaysia. Quran Cordoba (Karya Bestari) bahkan sudah masuk pasar Eropa, Australia, Amerika, bahkan Afrika. Di Indonesia, Cordoba berpartner dengan Grasindo, salah satu anak Perusahaan Kompas Gramedia Group sehingga Quran Cordoba tersebar dengan massive di seluruh toko Gramedia. Bukan hanya di channel toko buku modern dan tradisional, Cordoba juga mengambangkan bisnis B2B dan B2C. Cordoba bekerjasama dengan PT. Tira Satria Niaga, salah satu perusahaan distribusi secara direct selling terbesar di Indonesia untuk memasarkan buku buku anak dengan brand Cordoba Kids. Bekerjasama juga dengan platform reseller terbesar di Indonesia, yaitu Evermos, dan berbagai platform reseller lainnya. Di jalur B2C (business to Consumers) selain memanfaatkan semua channel online, Cordoba pun membangun komunitas reseller dengan brand Mitraqu. Jangan khawatir, seluruh reseller mitraqu bisa berbelanja dengan online dan jika mau, produk bisa langsung diambil di toko offline Cordoba.
Tidak dipungkiri jika omnichannel memerlukan biaya yang tidak sedikit, tetapi sesungguhnya biaya akan lebih banyak jika tidak melakukannya karena bisnis akan menurun, bahkan mengalami kerugian. Untuk mengantisipasi hal ini, Cordoba terus berbenah dengan menerapkan program Change Management yang diketuai oleh Fakhri Afid Abdullah selaku Corporate Planning, Strategy & Market Research Director. Change Management yang meliputi Customer Behavior, Product Development dan Sales Growth bertujuan agar Cordoba semakin baik sesuai visi dan tagline yang diinginkan, yaitu Inspiring people to love and live with Qurán. Usman El Qurtuby selaku CEO sangat yakin bahwa berbagai penghargaan yang diterima oleh Cordoba baik oleh Kemenag maupun IKADI adalah bukti bahwa Cordoba bukan hanya fokus pada penjualan, tetapi juga memastikan kebermanfaatan untuk ummat.
Omnichannel : Membangun Keniscayaan
Diperlukan keberanian untuk mencapai hal yang belum pernah dialami atau dilakukan. Omnichannel adalah salah satu tantangan para pebisnis bisa beradaptasi secara relevan dengan lingkungan agar terus tumbuh dan bertahan di masa depan. Jangan terjebak dengan kesuksesan masa lalu. Dunia berubah, manusia berubah, bisnispun harus berubah. Sangat masuk akal apa yang dikatakan oleh Peter Drucker, The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence. It is to act with yesterday’s logic. Selamat menikmati hari ini.!
*Artikel ini juga tayang di koranmandala.com
Leave a comment